Indonesia dikenal sebagai jamrud khatulistiwa yang menyimpan kekayaan hayati tak ternilai, terutama dalam hal tanaman aromatik dan obat-obatan. Melalui program Eksplorasi Kebun Nusantara, sebuah gerakan baru muncul untuk menggali kembali potensi tanaman lokal yang selama ini hanya dianggap sebagai tanaman pagar atau peneduh biasa. Fokus utama dari eksplorasi ini adalah membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai nilai ekonomi tinggi yang tersembunyi di balik helai demi helai dedaunan. Dengan pendekatan sains dan teknologi penyulingan yang tepat, hasil bumi Nusantara kini siap merambah pasar kosmetik dan kesehatan global sebagai bahan baku premium.
Kegiatan utama dalam inisiatif ini adalah memberikan edukasi mendalam mengenai teknik bagaimana olah daun agar menghasilkan sari pati tanaman yang murni. Selama ini, banyak bagian tanaman seperti daun cengkeh yang gugur, daun serai wangi, hingga daun nilam hanya dibiarkan membusuk atau dibakar karena dianggap sebagai limbah perkebunan. Padahal, dengan proses ekstraksi yang benar, limbah tersebut dapat bertransformasi menjadi produk bernilai tinggi. Siswa dan para petani mitra diajarkan cara memanen daun pada waktu yang tepat—biasanya saat matahari belum terlalu terik—agar kandungan zat aktif di dalamnya tidak menguap terlebih dahulu sebelum diproses.
Produk akhir yang menjadi primadona dalam kegiatan ini adalah minyak atsiri, atau yang sering disebut sebagai essential oil. Minyak ini merupakan hasil penyulingan uap yang menangkap molekul aromatik dari tanaman. Di dalam laboratorium alam Kebun Nusantara, para praktisi menunjukkan bahwa setiap jenis daun memiliki karakteristik aroma dan manfaat yang berbeda-beda. Misalnya, minyak dari daun nilam Indonesia merupakan yang terbaik di dunia sebagai bahan pengikat aroma parfum, sementara minyak daun kayu putih memiliki sifat antiseptik yang kuat. Memahami karakter kimia dari minyak ini memberikan wawasan baru bagi masyarakat bahwa kekayaan alam kita bukan hanya soal kayu dan tambang, melainkan juga cairan aromatik yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah per liter.
Proses produksi di kebun ini mengedepankan prinsip keberlanjutan. Alih-alih menebang seluruh pohon, para petani hanya mengambil bagian daun secara selektif agar tanaman tetap bisa tumbuh dan berproduksi dalam jangka panjang. Selain itu, ampas daun hasil penyulingan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi pupuk organik cair atau mulsa untuk mengembalikan kesuburan tanah. Siklus tertutup ini memastikan bahwa eksplorasi yang dilakukan tidak merusak ekosistem, melainkan justru memperkuat daya dukung lingkungan terhadap aktivitas ekonomi lokal.
