Petani sering berfokus pada kualitas benih dan pemupukan, namun ada faktor vital yang sering terabaikan, yaitu kualitas air irigasi. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman, meskipun tampak jernih, bisa menjadi ancaman tersembunyi di balik pertumbuhan tanaman jika mengandung zat-zat berbahaya atau memiliki sifat kimia yang tidak sesuai. Dampak dari air irigasi yang buruk tidak langsung terlihat seperti serangan hama, tetapi dapat merusak struktur tanah, menghambat penyerapan nutrisi, dan bahkan membuat produk pertanian tidak layak konsumsi karena kontaminasi. Oleh karena itu, pengecekan dan pengelolaan mutu air irigasi harus menjadi prioritas utama dalam praktik pertanian berkelanjutan.
Salah satu parameter terpenting dari kualitas air irigasi adalah salinitas, yang diukur dari kandungan total garam terlarut. Air dengan salinitas tinggi dapat menghambat kemampuan akar tanaman menyerap air, sebuah fenomena yang dikenal sebagai stres osmotik. Garam yang terakumulasi di zona perakaran dapat menyebabkan tanaman layu, pertumbuhan kerdil, dan penurunan hasil panen yang signifikan. Standar yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) seringkali menyarankan batas Electrical Conductivity (EC) air irigasi tidak melebihi 0,7 dS/m untuk tanaman yang sensitif. Misalnya, pada bulan Mei 2024, pengukuran EC di saluran irigasi tersier di dekat kawasan pesisir Jawa Tengah menunjukkan peningkatan tajam hingga 2,5 dS/m, mengindikasikan adanya intrusi air laut yang menjadi ancaman tersembunyi di balik pertumbuhan tanaman padi di wilayah tersebut. Petugas Balai Penelitian Pertanian telah menyarankan penggunaan metode pencucian tanah (flushing) untuk mengurangi akumulasi garam.
Selain salinitas, kandungan ion spesifik seperti Natrium (Na), Klorida (Cl), dan Boron juga perlu diwaspadai. Kelebihan Natrium dapat merusak struktur tanah, membuatnya menjadi keras dan sulit ditembus air (dispersi tanah). Sementara itu, Boron, meskipun merupakan unsur hara mikro esensial, dapat menjadi sangat beracun bagi banyak tanaman hortikultura jika kadarnya melebihi 1,0 mg/L. Analisis sampel air yang dilakukan pada tanggal 12 November 2024 di Laboratorium Pengujian Air Pertanian oleh tim pengawas menemukan bahwa sumber air dari sumur bor di lahan sayuran X memiliki kandungan Boron 1,5 mg/L. Temuan ini menjelaskan mengapa tanaman kangkung di area tersebut menunjukkan gejala daun menguning dan mati pucuk.
Masalah kualitas air irigasi juga mencakup kontaminasi biologis dan kimiawi, terutama jika sumber air berasal dari sungai yang melewati kawasan industri atau pemukiman padat. Kehadiran logam berat (seperti Timbal, Kadmium, dan Merkuri) atau sisa-sisa pestisida dan bakteri patogen dapat ditransfer langsung ke tanaman dan hasil panen, menimbulkan risiko kesehatan serius bagi konsumen. Untuk mengatasi ini, pemantauan rutin harus dilakukan. Pada hari Jumat, 20 Desember 2024, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama aparat Kepolisian setempat melakukan pengambilan sampel air irigasi di area pertanian dekat pabrik, guna memastikan air yang digunakan benar-benar aman. Pengawasan ketat adalah kunci untuk melindungi pertumbuhan tanaman dari ancaman tersembunyi dan menjamin keamanan pangan.
